Skip navigation

Minggu yang cerah menyapaku pagi ini, terasa indah menghirup udara pagi yang segar. Terdengar bunyi handphone yang berdering, agak malas memang untuk mengangkatnya ditambah dengan nomor baru ang tak ku kenal, namun apa boleh buat, jika itu ternyata dari manajerku ditempat kerja, bisa pusing besok aku dibuatnya. Ku angkat teleponnya, ternyata dari teman lamaku sewaktu duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di daerah Bogor, Doni namanya. Berbincanglah aku dengannya, singkat saja, dia mengajak aku untuk reuni sekolah dulu. Memang, tanpa terasa hidupku telah menginjak usia kepala dua, dan bekerja. Rutinitas kerja yang menyita waktuku membuat hari minggu serasa menjadi surga untuk diri ini melepas lelah di rumah. Urusan teman, urusan cinta, untuk saat ini ku kesampingkan. Yang ada di benakku hanya bekerja dan bekerja, untuk membahagiakan orang tuaku, tentunya dengan cara memberangkatkan mereka ke tanah suci, itu prioritasku.
Setelah Doni menentukan tempat untuk reuni, aku langsung mengiyakan saja tanpa bertanya kapan acara itu berlangsung, alangkah terkejutnya aku setelah Doni mengatakan acara itu jatuh pada hari ini jam setengah empat ba’da ashar. Beruntung esok hari, jadwalku bekerja mendapat bagian shift dua, atau siang, jadi aku bisa menginap satu malam di rumah. Jam di kamar menunjukan jam setengah sembilan, sementara perjalanan yang harus ku tempuh dari Cikarang menuju Bogor sekitar tiga jam. Memang, setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan, aku bertekad untuk merantau ke daerah yang memang dikhususkan untuk daerah perindustrian, selain itu pula UMR yang di tetapkan pemerintah daerah Cikarang cukup besar ditambah upah lembur, itu akan semakin cepat mewujudkan keinginanku untuk memberangkatkan kedua orang tuaku ke tanah suci. Meskipun harus rela jauh dari orang tua.
Kupercepat langkahku menuju kamar mandi, tinggal sendiri di kontrakan yang mungil cukup membuatku menjadi mandiri. Setelah selesai mandi, perutku terasa lapar, terpaksa aku mencari makan di warung dekat kontrakanku, selain makanannya enak, harganya yang terjangkau pula yang membuat aku jatuh cinta pada warung makan “bude” itu. Memang aku sangat banyak berfikir untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar kalau tidak terlalu penting, terkesan pelit, namun aku tahu tujuanku, dan aku tak peduli apa kata orang disekitarku. Yang terpenting aku selalu mengingat kata-kata Ibuku, “jangan terlalu boros ya nak”.
Setelah perut terisi, ku panaskan motor tua pemberian Ayahku tercinta. Kendaraan yang selalu menemaniku saat susah, senang, panas, hujan, pahitnya putus cinta dan lain-lain, ya meskipun dalam memacu kendaraan tuaku ini harus pelan-pelan, tapi filsafat orang jawa selalu aku ingat, “alon-alon asal kelakon”, hihi. Handphoneku kembali berdering, kali ini hanya sms dari temanku Doni, dia mengingatkan aku untuk tepat waktu. Memang temanku yang satu ini cerewetnya bukan main, sampai pusing aku dibuatnya. Segeralah aku bersiap berangkat menuju Bogor, Kota kelahiranku tercinta.
Cuaca hari ini cukup terik, ditambah jalan yang ku lalui sangat rusak, terkadang aku suka bergumam dalam hati, kemana pemerintah daerah yang seharusnya membetulkan jalan ini? Ah, gerutu seorang pegawai kecil sepertiku tak akan pernah di dengar oleh orang-orang di atas sana pastinya.
Tiga jam perjalanan membuat tubuhku serasa lelah. Jam satu aku tiba di Kota Bogor, aku menyempatkan diri singgah di rumah orang tuaku. Untuk melepas rindu pada orang tua dan adik-adikku. Tak lupa kubawakan mereka oleh-oleh yang sempat aku beli di perjalanan tadi. Kedatanganku yang tiba-tiba dan tanpa mengabari mereka cukup membuat keluarga kecilku ini kaget. Maklum, meskipun jarak antara Cikarang dan Bogor tidak terlalu jauh, namun aku sangat jarang pulang ke rumah di saat akhir pekan. Akhir pekanku hanya diisi oleh istirahat di kontrakan. Dan akupun tak ingin membuat repot Ibu, yang pastinya setiap aku pulang beliau selalu sibuk untuk memasak. Sekali-sekali aku ingin mengajak keluarga makan di luar. Kebetulan sekarang awal bulan, tentu saja kantongku masih tebal, hehe.
Waktu ashar telah tiba, setelah aku selesai menunaikan sholat ashar aku berpamitan untuk pergi menghadiri acara reuni teman-teman semasa SMP ku. Kebetulan tempat yang ku tuju tidak terlalu jauh dari rumahku, jadi aku tidak perlu khawatir terlambat. Setiba di tempat reuni, teman-teman sudah banyak yang berdatangan, nampaknya aku terlambat. Ku tengok ke kanan ke kiri mencari temanku Doni, tiba-tiba ada orang yang mengagetkanku dari belakang, Doni rupanya. Selain cerewet, dia juga seorang yang jahil. Aku ingat saat teman sekelasku yang bernama Yuda dipeloroti celananya hingga celana dalamnya terlihat, alangkah malunya Yuda dihadapan teman-teman wanita pula, sungguh jahil temanku yang satu ini, sampai saat ini cerita itu tetap menjadi topik terhangat yang membuat kami terpingkal-pingkal menceritakannya.
Ku berjabat tangan satu persatu dengan teman-temanku sambil bersenda gurau. Hingga sampailah kepada “si senyum menawan”. Malu rasanya, karena dia teman wanitaku yang dulu sempat ku kagumi. Berawal dari posisi tempat duduk dia berada di pojok dekat guru semasa di SMP, sementara aku duduk di pojok belakang berlawanan arah dengannya. Saat pelajaran berlangsung, aku selalu memperhatikan guru yang duduk di dekatnya, namun diam-diam Doni memperhatikanku. Dia membuat cerita yang tidak-tidak. Aku disangka selalu memperhatikan “si senyum menawan” itu. Padahal aku hanya memperhatikan guru yang sedang mengajar. Menyebarlah cerita itu di kelas ku, hingga aku malu dibuatnya, memang anak satu kelas tidak ada yang luput dari kejahilannya. Namun, setelah cerita itu tersebar, aku jadi memperhatikan dia. Dan aku jadi tertarik padanya. Senyumannya cukup membuatku bahagia, ah, masa-masa sekolah dulu, cinta monyet Ibuku menyebutnya. Dan cerita inipun selalu menjadi topik yang selalu jadi santapan hangat teman-temanku, saat aku berjabat tangan dengan dia pun, teman-teman meledekku habis-habisan.
Acara berlangsung cukup meriah, karena teman-teman satu kelas menghadiri. Dengan agak malu-malu aku menghampiri “si senyum menawan”. Berbincang-bincanglah aku dengannya. Tak ada yang berubah, dia tetap ramah, baik, dan tentu saja menawan. Hingga kami bertukar nomor handphone, cukup membuatku senang bukan kepalang.
Tanpa terasa acara telah selesai, dan teman-temanku satu persatu pulang meninggalkan tempat acara reuni. Tersisa hanya aku, Doni dan Yuda. Dari kejauhan ku lihat “si senyum menawan” sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu taksi sepertinya. Doni menyuruhku untuk mengantarkannya pulang. Segera aku menghampiri “si senyum menawan” untuk menawarkan pulang bersama. Namun, alangkah terkejutnya aku, Ketika belum sampai aku ke tempat dia berdiri, berhentilah mobil BMW merah didepannya. Alangkah terkejutnya aku, ketika pengendara itu keluar dari kendaraannya, dia memeluk “si senyum menawan” itu dengan mesra, dan membukakan pintu untuk mengajaknya masuk ke dalam mobil, “si senyum menawan”pun dengan sedikit manja masuk ke dalam mobilnya. Uh, Doni dan Yuda yang sedari tadi memperhatikanku dari dalam resto tertawa terpingkal-pingkal. Malunya aku.
Akhirnya dengan sedikit lesu aku dan teman-teman baikku itu berpisah, ya meskipun mereka masih saja tertawa mengingat kejadian tadi, dan pastinya ini menjadi topik yang akan dibicarakan mereka di reuni-reuni selanjutnya. Aku tidak terlalu memikirkannya. Tak terasa maghrib telah tiba, setiba ku di rumah. Seusai menunaikan sholat maghrib, aku mengajak keluarga ku untuk makan di luar. Alangkah bahagianya adik-adikku, jarang-jarang aku mengajak mereka. Bersyukur Ayahku bisa membeli tiga motor, meskipun belum mempunyai mobil, kami pergi dengan tiga motor berjalan beriringan.
Setelah selesai, kami pun segera pulang ke rumah. Suasana rumah yang sangat aku rindukan, keluarga kecil yang bahagia. Aku masuk ke dalam kamar ku yang dulu, sekarang menjadi kamar adikku. Tak ada yang berubah, masih sama seperti dulu. Ku rebahkan tubuhku di kasur tua yang dulu menemani malam-malamku. Fikiranku kembali ke saat-saat yang memalukan tadi, tersenyum seperti orang tidak waras aku dibuatnya. “si senyum menawan” cukup menjadi cerita lama yang akan selalu ku ingat di dalam hidupku. Terpejamlah kedua mata ini.
Subuh menjelang, seusai mandi menunaikan sholat subuh, Ibuku telah menyiapkan makanan favoritku. Alangkah bahagianya diriku. Setelah sarapan, aku berpamitan dengan orang tua dan adik-adikku untuk kembali ke Cikarang. Sedih memang, namun apa boleh buat. Aku harus memenuhi impian kedua orang tuaku, dan untuk kehidupanku yang lebih baik kelak. Dan aku pun pergi meninggalkan Kota dimana aku dilahirkan untuk menjalani rutinitas sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: